Kumpulan Makalah

Minggu, 21 Agustus 2011

KEWAJIBAN BELAJAR MENGAJAR DALAM AL-QUR’AN (Tafsir Surat Ali Imran : 190 – 191 dan Al-Ankabuut : 19 -20)


PEMBAHASAN

1. Surat Ali Imran ayat 190 – 191
ان في خلق السموات والارض واختلاف اليل والنهار لآيت لاولى الالباب (190) الذين يذكرون الله قياما وقعودا وعلى جنوبهم ويتفكرون في خلق السموات والارض ربنا ما خلقت هذا باطلا سبحنك فقنا عذاب النار (191)
Artinya  : Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (190). (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka periharalah kami dari siksa neraka”. (190)
Sebab turunnya ayat tersebut ialah, dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa orang kafir Quraisy datang kepada orang Yahudi untuk bertanya :”Mukjizat apakah yang dibawa Musa kepada kalian ?”. Mereka menjawab :” Tongkat dan tangannya terlihat putih bercahaya”. Kemudian mereka bertanya kepada kaum Nasrani : “Mukjizat apa yang dibawa Isa kepada kalian ?”. Mereka menjawab :” Ia dapat menyembuhkan orang yang berpenyakit sopak dan menghidupkan orang mati”. Kemudian mereka menghadap Nabi SAW. dan berkata :” Hai Muhammad, coba berdo’alah engkau kepada Rabb-mu agar bukit Shafa ini dijadikan emas”. Lalu Nabi SAW. berdo’a dan turunlah ayat tesebut di atas (Q.S. Ali Imron :190) sebagai petunjuk untuk memperhatikan apa yang telah ada, yang akan lebih besar manfaatnya bagi orang yang menggunakan akal. Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dan Ibnu Abi Hatim yang bersember dari Ibnu Abbas.[1]
Sedangkan Syekh Showi al-Maliki di dalam kitab Al-Hasyiyah al-‘allamah al-showi ‘ala tafsir al-jalalain, menerangkan sebagai berikut :
سبب نزولها ان كفار مكة قالوا للنبي صلى الله عليه وسلم : ائتنا بآية تدل على ان الله واحد فقال لهم ردا عليهم إن في خلق السموات والارض (الايات)
Sebab turunnya ayat tersebut ialah sesungguhnya orang kafir Mekkah datang kepada Nabi SAW. dan berkata :” Datangkanlah kepada kami tanda-tanda yang menunjukkan bahwa Allah itu Maha Esa”. Maka Allah befirman:”Sesungguhnya di dalam penciptaan langit dan bumi ………..Q.S. Ali Imran : 190.[2]
Tujuan utama surah Ali Imran adalah pembuktian tentang tauhid, keesaan dan kekuasaan Allah. Hukum-hukum alam yang melahirkan kebiasaan-kebiasaan pada hakikatnya ditetapkan dan diatur oleh Allah. Hal ini ditegaskan pada ayat ini dan ayat yang sesudanya. Salah satu bukti kebenaran hal tersebut adalah undangan kepada manusia untuk berpikir, karena sesungguhnya dalam penciptaan, yakni kejadian benda-benda angkasa seperti matahari, bulan dan jutaan gugusan bintang-bintang yang terdapat dilangit, atau dalam pengaturan system kerja langit yang sangat teliti serta kejadian dan perputaran bumi pada porosnya yang melahirkan silih bergantinya malam dan siang, perbedaannya baik dalam masa maupun panjang dan pendeknya terdapat tanda-tanda kemaha kuasaan Allah bagi ulul yaitu orang-orang yang memiliki akal yang murni. Dan orang-orang yang seperti ini apabila berfikir dan merenungkan tentang fenomena alam raya akan dapat sampai kepada bukti yang sangat nyata tentang keesaan dan kuasaan Allah SWT.
Berfikir disini adalah seperti yang digambarkan dalam tafsir Ibnu Katsir yang menafsiri ayat : ويتفكرون في خلق السموات والارضbeliau memberi penafsiran sebagai berikut :
اي يفهمون ما فيها من الحكم الدالةعلى عظمة الخالق وقدرته وعلمه وحكمته واختياره ورحمته [3]
Yaitu berusaha untuk memahami segala sesuatu yang ada di antara langit dan bumi dan beberapa hikmah yang menunjukkan keagungan Sang Pencipta dan ke-Maha Kuasa-Nya, pengetahuan dan hikmah-hikmah-Nya, serta ikhtiar dan rahmat-nya. Allah sangat mencela orang-orang yang tidak bisa mengambil pelajaran dari para makhluk yang menunjukkan atas dzat-Nya, sifat-sifat-Nya, syari’at-Nya, ke-Maha Kuasa-Nya dan tanda-tanda-Nya. Dalam Surat Yusuf : 105-106 Allah berfirman :
وكاين من اية فى السموات والارض يمرون عليها وهم عنها معرضون (105) وما يؤمن اكثرهم بالله الا وهم مشركون (106)
Artinya : Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) dilangit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling dari padanya (105) Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain)106.

2. Surat A-Ankabuut ayat 19-20
اولم يروا كيف يبدئ الله الخلق ثم يعيده ان ذلك على الله يسير (19) قل سيروا في الارض فانظروا كيف بدا الخلق ثم الله ينشئ النشاة الاخرة ان الله على كل شيئ قدير (20)
Artinya : Dan apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian mengulanginya (kembali). Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.(19) Katakanlah : “Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya. Kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Q.S. al-Ankabuut :20)
Kedua ayat ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari nasihat Nabi Ibrahim kepada kaumnya, setelah beliau melihat tanda-tanda penolakan mereka. Ayat ini merupakan jawaban atas keraguan orang musyrik terhadap hari kebangkitan.
M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah menjelaskan bahwa disini Allah berfrman : Dan apakah mereka lengah sehingga tidak memperhatikan bagaimana Allah senantiasa memulai penciptaan semua makhluk termasuk manusia. Setelah Allah menciptakan mereka kemudian dia mengulanginya kembali. Sesungguhnya yang demikian itu yakni penciptaan dan pengulangannya bagi Allah semata-mata dan khusus bagi-Nya adalah mudah. Jika demikian, bagaimana mereka mengingkari pengembalian manusia hidup kembali kelak di hari Kemudian ?.[4]
Kata (يروا) terambil dari kata (رأى) yang dapat berarti melihat dengan mata kepala atau mata hati/memikirkan atau memperhatikan, maka jawaban dari keraguan atas hari kebangkitan tersebut jawabannya adalah melihat, memperhatikan dan merenungkan tentang penciptaan. Hal ini erat sekali kaitannya dengan ayat selanjutnya.
Dalam kitab Zaad al-maysir fi al-ilmi al-tafsir, Imam al Jauzi di dalam menafsiri firman Allah قل سيروا في الارضmenjelaskan :
اي انظروا إلى المخلوقات التي في الارض وابحثوا عنها هل تجدون لها خالقا غيرالله فاذا علموا انه لا خالق لهم سواه لزمتهم الحجة في الاعادة
Artinya : Lihatlah kepada makhluk-makhluk yang ada di bumi dan telitilah tentang mereka. Apakah kalian menemukan pencipta mereka selain Allah. Dan apabila mereka telah tahu bahwa tidak ada pencipta selain Allah maka dalil tentang kebangkitan menjadi jelas.
Dari penjelasan ini, maka Allah menegaskan kepada Nabi Muhammad bahwa : Katakanlah kepada mereka : Kalau kamu belum juga mempercayai keterangan-keterangan di atas antara lain yang disampaikan oleh leluhur kamu dan bapak para nabi yakni Ibrahim, maka berjalanlah dimuka bumi kemana saja kaki kamu melangkah, lalu dengan segera walau baru beberapa langkah, perhatikanlah bagaimana allah memulai penciptaan makhluk yang beraneka ragam – manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan dan sebagainya – kemudian Allah menjadikannya di kali lain setelah penciptaan pertama kali itu. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.





















KESIMPULAN

Dari penafsiran tentang 2 ayat dalam surat Ali Imran dan 2 ayat dalam surat Al-Ankabuut diatas jelas sekali nyata bahwa usaha untuk mengenal Allah kemudian mengimani-Nya sangat erat kaitannya dengan usaha untuk memahami dan berfikir tentang semua makhluk Allah yang pada akhirnya akan mengantarkan kepada keimanan yang kokoh. Memahami dan berfifkir tentang makhluk Allah itu hanya akan dapat dilakukan bagi mereka yang mempunyai akal yang tajam (dzawil albab) sedangkan kemampuan akal agar dapat berpotensi dengan baik hanya dapat dilakukan melalui suatu proses pembiasaan berfikir yang dikenal dengan istilah belajar. Sebab sebagaimana diterangkan dalam surat Yusuf di atas, bahwa tanda-tanda kekuasaan Allah yang berada dibumi dan dilangit tidak bisa dipahami dengan baik dan sama sekali tidak ada manfaatnya bagi keimanan apabila kita tidak berusaha untuk memahaminya (berpaling), dan usaha untuk memahaminya ini hanya dapat dilakukan apabila kita mau mempelajarinya mulai dari hal yang paling kecil dan mulai sejak masa kecil, sehingga semua isyarat Allah yang ada pada semua makhluk-Nya tersebut dapat menghantarkan kita pada pengetahuan yang sempurna tentang keimanan kepada Allah.
















DAFTAR PUSTAKA

1. Al-Hafidz Ibnu Katsir, Umdathu al-Tafsir, Darul wafa’
2. Al-‘Allamah al-Syekh al-Showi al-Maliki, Hasyiyah al-‘allamah al-showi ‘ala tafsir al-  jalalain, Daru Ihya’ alkutub al-‘arabiyyah Indonesia
3. K.H.Q. Shaleh, H,A,A Dahlan dkk , Asbabun nuzul Latar belakang historis tturunnya ayat-ayat Al-Qur ‘an, CV. Diponegoro, Bandung
4. Yayasan Penyelenggaara Penerjamah Al Qur’an, Al-Quran dan terjemahannya, Gema Risalah Press, 1989
5. Abi Jakfar Muhammad bin jarir al-Thabari, Tafsir Al-Thabari, Maktabah Ibnu Taymiyah, carro
6. Al-Imam abi al-Faraj jamal al-din Abdu al-rahman bin Ali bin Muhammad al-Jauzi al-Baghdadi, Zaad al-Maysir fi ilmi al-Tafsir, Al-Maktabatul Islami
7. M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Lentera Hati, Ciputat, 2000



[1] K.H.Q. Shaleh, H,A,A Dahlan dkk , Asbabun nuzul Latar belakang histories tturunnya ayat-ayat Al-Qur ‘an CV. Diponegoro Bandung
[2] Al-‘Allamah al-Syekh al-Showi al-Maliki, Hasyiyah al-‘allamah al-showi ‘ala tafsir al-jalalain, Daru Ihya’ alkutub al-‘arabiyyah Indonesia
[3] “Al-Hafidz Ibnu Katsir, Umdathu al-Tafsir, Darul wafa’
[4] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Lentera Hati, Ciputat Th.2000

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar